Minggu, September 07, 2014

Suara Dalam Keheningan

Di dalam keheningan ia berkata "lakukanlah kebaikan dengan motivasi untuk mensucikan batin mu. Kamu tidak berusaha untuk merubah seseorang atau dunia. 'Sesuatu itu' sudah punya karmanya masing2. Seribu avatara atau org hebat yg turun ke bumi pun tidak mampu merubah dunia. Pola dunia ini tetap sama, ada baik dan buruk yg berdampak pengalaman suka dan duka dalam bathin kita. Pola itu tdk akan pernah berubah karena itulah sifat dunia. Dunia luar akan berubah indah karena bathin mu bersih. Gunakan waktumu untuk proses itu, hidup ini singkat teman". (Wulan)

Pejuang Kehidupan

Ada saat2 dimana kita harus berjuang seorang diri. Karena pada dasarnya perjuangan hidup adalah perjuangan seorang diri. Bantuan luar hanyalah seperti penyemangat, seperti suara genderang di medan perang. Tapi tetap kita yg berperang sendiri. Seorang diri. (Wulan)

Love Again

Harga diri itu lenyap ketika menyatu dengan cinta. (Wulan)

Kebutuhan Akan Cinta

Disatu pihak kita butuh "cinta". Disana ada yg skala cintanya luas untuk hidup banyak makhluk, ada yg skala cintanya kecil hanya pada 'seseorang atau beberapa orang'. Kepada siapapun cinta itu diberikan, dalam skala besar atau kecil, cinta adalah cinta. Rasa itu ada, dan setiap orang memilikinya. Bagi saya tidaklah penting skalanya, yg terpenting adalah kita dapat merasakannya. Rasa kesepian, rasa hampa biasanya dikarenakan kurangnya kepekaan kita untuk merasakan cinta. (Wulan)

Masih Tentang Cinta

Seandainya mencintai itu tidak terbatas oleh badan fisik dan waktu - mungkin dunia akan terasa indah.

Cahaya Mimpi

Jangan takut berjalan sendiri di tengah kegelapan. Jangan menyesali karma negatif masa lalu. Mari kita ciptakan cahaya sendiri. Bermimpilah dan yakinlah. Karena cahaya jenis itu yg akan menarik kita ke pola energi baru, membuat karma baru. Mimpi yg tdk egois, mimpi yg bermanfaat untuk semua. (Wulan)

Merasakan Cinta

Cinta itu lebih bermanfaat untuk pertumbuhan jiwa ketika dialami dan dirasakan. Jangan takut menderita karena pilihan yg salah untuk mencintai. Tapi takutlah jika pilihan itu membuat kita berhenti mencintai.

Kebebasan Yang Dirindukan Jiva

Saya yakin secara naluri kita semua menginginkan kebebasan. Tapi sayangnya kadang kita sering bingung, "kebebasan macam apa yg kita inginkan". Di lain sisi, jiwa kita juga menginginkan cinta. Kebebasan dan Cinta. Dua hal yg selalu dicari dan dirindukan. Dan sebenarnya Cinta itupun membutuhkan kebebasan. Jika dua hal ini lari ke hal2 kasat mata/hanya fisik/material/duniawi maka tidak heran kita akan menjadi palyboy atau playgirl. Kita ingin cinta tapi bebas. Kita yg diberkahi intelejensia sebenarnya dapat mengarahkan keinginan ini ke hal yg lebih besar daripada hal2 duniawi. Para jiwa bebas kadang suka bingung, mereka pikir adat, pemerintah, atau orang2 tertentu dapat membatasi kebebasan mereka. Tapi ternyata semua itu hanya ilusi. Tidak ada satupun yg bisa membelenggu jiwa kita. Mereka bisa saja memenjarakan badan kita, mereka bisa saja membatasi ruang gerak kita untuk berekspresi dan merasakan. Tapi mereka tidak bisa mengambil kekuatan jiwa yg bebas. Ya, jiwa yg bebas. Bebas dari segala macam ilusi negatif. Karena bagi saya kebebasan yg diinginkan oleh jiwa kita adalah kebebasan dari rasa marah, cemburu, irihati, keserakahan dan keterikatan. Dan kebebasan macam itu hanya bisa didapatkan dengan cara mencintai. Lihat saja mereka2 yg sedang jatuh cinta, tempat tinggal mereka masih sama, yg memerintah mereka juga masih sama, adat yg mengatur mereka juga sama. Tapi mereka bahagia, rasa tertekan dan terpenjarakan hilang seketika ketika mereka merasakan cinta. Tiba2 dunia jadi indah, bukan samsara lg, bukan penjara lg. Teringat sebuah cerita, salah seorang sahabat di Tibet, yang di usia mudanya di tanggkap oleh pemerintah china. Beliau di penjara selama 9 tahun. Tahun2 pertama beliau sangat marah terhadap china. Karena pemerintah china menghancurkan budaya mereka, dan membunuh orang2 tibet. Didalam penjara di tengah penderitaan beliau, beliau bertemu seorang Guru besar. Guru itu mengajarkan cinta kasih (bodhicitta) kepada beliau. Seketika cara pandang beliau terhadap penderitaannya berubah. Beliau menjadi tahanan yg baik, dan menjadi pelayan yg baik bagi warga di tahanan itu. Dan tentu saja rasa benci terhadap orang china hilang yg kemudian tergantikan dengan rasa kasihan. Dalam beberapa tahun, penjara bukan penjara lagi. Beliau bahagia karena rasa cinta itu. Dan entah bagaiamana, ketika beliau merasakan kebebasan itu di penjara, kebebasan fisik pun terjadi. Entah bagaimana alam semesta membuat pemerintah china membebaskan beliau dari penjara. Pemerintahan atau orang2 tertentu hanya akan berhasil membelenggu jiwa kita ketika mereka berhasil membuat kita marah, takut, cemburu, benci, iri hati, serakah dan terikat. Dan satu2nya kunci untuk sebuah kebebasan adalah mencintai. (Wulan)

Menghargai Seorang Perempuan Berarti Menjaga Perasaannya

Menghargai seorang perempuan berarti menjaga perasaannya. Sangat simple sekali. Tapi sayangnya banyak perempuan yg tidak sadar bahwa penghargaan seorg laki2 bukan terletak dari kehormatan atau kekayaan laki2 tersebut di masyarakat. Mungkin saja ketika kita menikah dengan laki2 yg dihormati masyarakat maka kehormatan kitapun ikut terangkat. Tapi apakah itu yg yg di inginkan seorg perempuan dari laki2nya? Kita tdk menikahi masyarakat. Kita menikahi laki2 itu. Mungkin saja ketika kita menikahi laki2 kaya, kehormtan kita juga terangkat karena dgn kekayaan itu kita bisa melakukan apa saja dan bahkan menolong org, tapi apakah itu yg diinginkan seorang perempuan dari laki2nya? Menggunakan kekayaan seseorg untuk memenuhi kebutuhan bathin pribadi? Kesannya egois sekali. Apakah status sosialnya dapat menghormati kita, menjaga perasaan kita? Kita tidak sedang menikahi statusnya, kita menikahi laki2 itu. Apakah "karakter perilaku" laki2 itu menyakiti perasaan kita atau menyenangkan kita?. Apakah karakternya cocok dengan karakter kita. Jika ingin lebih sederhana lg, apakah sikapnya selalu menyakiti atau membuat kita aman dan senang?. Saya pernah dikatakan sebagi "perempuan idiot". Saya meng-iyakan sebutan itu. Krn begitulah kenyataannya. Tapi dari ke "idiot" an diri itulah penyadaran terjadi. Karena saya pernah menjadi perempuan idiot lah kebijaksanaan ini saya temukan dan dibagi. Sebelum kita menginginkan penghargaan dari org lain, kita harus menghargai diri kita terlebih dahulu. Jaga hati dan perasaan kita baik2. Ketika kita menghargai diri kita, tidak mungkin kita memilih orang2 yg selalu melukai perasaan kita. Jangan menjadi perempuan idiot berikutnya. Dan laki2 yang menghargai perempuannya adalah laki2 yg bisa menghargai perasaan perempuannya. Dan hanya mereka yg mencintai yg mampu menghargai.(Wulan)

Hati-Hati Dalam Memilih Guru

Kadang hanya bisa tersenyum dan kasihan melihat orang2 yg berambisi ingin menjadi Guru Spiritual, mereka yg berambisi ingin menjadi penyelamat dunia, menjadi mesias ,nabi atau avatar. Mereka seperti seorang anak kecil yg membayangkan dirinya seorang pahlawan atau pajurit ketika sedang bermain lengkap dengan atributnya. Seorang Guru menjadi Guru bukan karena mereka ingin title "guru/pemimpin" Mereka tidak sedang menyelamatkan seluruh makhluk ataupun dunia. Jika itu tujuan mereka, maka dunia ini sudah damai dari dulu ketika Sri Krishna, Buddha dan Isa turun ke dunia. Mereka datang bukan untuk "menyelamatkan" tapi "membebaskan" kita dari penderitaan. Mereka datang untuk kebahagian "setiap" makhluk bukan "seluruh" makhluk. Sekali lagi saya hanya mengingatkan, Guru Sejati memiliki kemampuan melihat karma2 yg membawa kita, ntah masa lalu ataupun saat ini. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar ttg penderitaan diri. Tanpa penjelasan dari kitapun, beliau sudah tau siapa kita. Beliau juga tau apa yg harus dilakukan terhadap kita untuk sebuah pembebasan. Kesaktian itu bisa didapat dimana saja. Iblis, jin, para dewa atau malaikat pun dapat memberikannya pada kita, tapi apakah mereka mampu membuat kita menjadi "welas asih"? . Seorang Sat Guru tdk berurusan dgn kesaktian, mereka sedang berusaha membawa kita kembali pada cahaya murni,cahaya kasih lewat pembersihan karma dan kasih itu sendiri.

Menikmati Keindahan Alam Dengan Ketenangan Batin

Alam itu indah, gunung, lautan, pohon, air, matahari, bulan, bintang.. Tapi keindahan itu tdk dapat dirasakan ketika pikiran dan hati tidak tenang, tdk hening. Oleh karena itu, bagi saya, rasa "cinta kasih" adalah keindahan dari segala macam keindahan. Pikiran dan hati yg tidak tenang pun akan menjadi tenang secara otomatis, baru kemudian persahabatan dgn alam pun terjadi. Baru terasa ternyata dunia itu indah. Bisakah perasaan cinta kasih itu terus bertahan sampai raga meninggalkan bhumi? Jika tumbuhan perlu dipupuki, dirawat, apalagi rasa cinta kasih itu. Versi : melihat org gila mandi di pantai, senyum2 melihat saya sambil menikmati ombak, baru sadar dia gila saat saya mulai mendekat. (Wulan)

Menikahlah Karena Kamu Ingin Selalu Bersama

Ketika pernikahan menjadi suatu kewajiban dan pasangan pun "dicari" karena "kebutuhan". Jika beruntung cinta dan pengertian tumbuh, jika tidak percerairan dan perselingkuhan pun terjadi.(Wulan)

Pilihlah Ia Yang Mencintaimu

Jika saya adalah seorg Ibu, saya akan berdoa "Bunda alam semesta, berkahi anak2 saya dgn seseorg yg bisa mencintai dan menghormati mereka sebagai pasangan mereka, berkahi mereka dgn seseorg yg baik budhi, yg bisa diajak bergotong royong untuk memanusiakan diri mereka". Sebagai seorg Ibu, saya sadar yg terbaik bagi anak2 saya adalah kebaikan hati. Apapun agamanya, entah dari mana negaranya, entah dari kelurga mana, entah berkasta atau tidak. Karena saya sadar yg membahagiakan mereka lahir dan bathin bukanlah atribut luar, melainkan sebuah penghargaan dan cinta kasih. Saya akan bilang "jangan takut nak, bahasa itu bisa dipelajari, cara hidup yg berbeda juga bisa dipelajari, uang bisa dicari, yg penting bahagia dulu, pasti segala sesuatunya sangat mudah diatasi. Org bahagia bisa lebih banyak mengerjakan sesuatu daripada mereka yg sakit. (Wulan)

Pikiran dan Jiwa Juga Butuh 'Liburan'

Dulu waktu saya masih di luar, ketika ingin liburan kita mencari tempat yg berhubungan dengan alam dan makan2an sehat, yoga dan meditasi. Karena kami sadar, liburan tanpa melakukan olah batin, bagaikan pindah kantor dari kota ke desa. Liburan sebulan pun tetap melelahkan. Dan jika ingin merasakan liburan setiap hari, sebenarnya sangat gampang. Tidur di bawah jam 12, bangun sebelum matahari terbit dan melakukan olah batin. Di jaman modern ini banyak yg tdk bisa melakukan krn tuntutan aktivitas pekerjaan. Dan jika org2 modern ini harus berlibur, di tempat libur pun mereka akan sibuk dgn elektronik mereka, karena "kebiasaan" modern itu sudah mengakar dan terbawa. Hanya dgn kesadaran dan disiplin liburan bisa dinikmati. Versi : bukan hanya tubuh yg butuh libur, pikiran dan jiwa pun butuh liburan.

Surga Hati

Surga saya adalah ketika saya hidup di tengah orang-orang yang berhati mulia. Desa, kota, bersih, kotor, mewah ataupun sederhana tak berarti sama sekali ketika kemuliaan berada disana. Versi : berbunga2 dgn pengalaman sebulan terakhir, bertemu org2 yg menolong tanpa pamrih. (Wulan)

Kesederhanaan yang Holistic.

Buka FB, banyak yg sedang membicarakan "kesederhanaan". Bagi saya sederhana itu adalah bisa menerima apa saja. Cont nya di kasi makan mewah bisa, makan miskin (?) bisa. Tidur di tempat mewah bisa, di tempat miskin juga bisa. Bagi saya gaya hidup sederhana itu adalah gaya hidup apa adanya dengan sikap "nrimo". Ga harus makan tahu tempe dan nasi putih. (Versi: makan tipat sambil nunggu kendaraan dicuci)

Dari Anak Menuju Dunia

Dunia ini butuh lebih banyak lagi jiwa2 yg mencintai. Salah satu contoh adalah orang tua yg memiliki cinta pada anaknya yg jarang di temui di jaman kali yuga ini. Banyak orang tua yg hanya mementingkan kenyamanan mereka saja. Seorang anak tdk bisa bebas berekspresi atau menjadi dirinya sendiri, selama mengganggu kenyamanan orang tuanya, dia pun akan berada dlm masalah. Ketika kita mencintai, kita lebih mementingkan kenyamanan org yg kita cintai, karena itulah yg merupakan kenyamanan kita. Bukan sebaliknya. Sekali lagi, dunia ini membutuhkan lebih banyak jiwa2 pecinta. Satu2nya obat yg dibutuhkan untuk kemanusiaan. (Wulan)

Jadilah Manusia yang Seutuhnya, yang Holistic

Segala sesuatu yg kotor selalu membawa penyakit (kesengsaraan). Hati yg kotor pun dapat menyebabkan penyakit mental spt marah, benci, iri, keterikatan, dan keserakahan. Jika hati yg kotor saja dapat membawa kesengsaraan, apalagi tubuh, pikiran, dan lingkungan yg kotor?. Kebersihan selalu memberikan keindahan dan kesucian. Versi : jadilah manusia yg seutuhnya, yg holistic.

Bali Tetap di Hati

Walaupun Bali tidak seindah rumput tetangga, walaupun Bali tidak seperti dulu lagi, tapi tetap saya mencintai pulau ini lebih dari yg lain. Mungkin caramu mencintai berbeda dengan cara saya mencintai. Kmu mencintai tapi ingin mengubah nya seperti yg kmu inginkan. Saya mencintai nya apa adanya, membiarkan dia menjadi dirinya sendiri karena keunikan itu yg membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu knapa harus dirubah?. Semoga orang2 yg ingin merubah bali menjadi bukan lagi seribu pura cepat2 tersadarkan bahwa mereka sedang merusak keindahan pulau dewata ini.(Wulan)

Keinginan Berbasis Rasa Syukur

Dalam hidup sering kali kita menuntut. Saya ingin begini, saya maunya seperti itu. Begitu juga dalam hal memilih orang2 atau situasi. Saya ingin sekali tipe orang spt ini dan itu. Ketika tdk sesuai dgn keinginan, kita pun kecewa. Kadang kita sering lupa ttg hukum alam. Apa yg kmu berikan itu yg akan didapatkan (dlm arti niat di balik pemberian itu). Keinginan tanpa sebuah usaha tentu saja tdk sesuai dengan kodrat alam. Berusaha dulu baru kemudian hasil. Kalau pun hasilnya tdk sesuai dengan keinginan kita, tdk apa2. Mungkin itu yg terbaik. Yg terpenting dalam merealisasikan keinginan adalah prosesnya. Karena kepuasan itu tdk terletak dari hasilnya, tapi prosesnya. Proses dari sebuah keberanian untuk mewujudkan sebuah mimpi. Sebuah "proses" selalu menciptakan banyak cerita2 yg menginspirasi dan mendewasakan. (Wulan)

Kearifan Nusantara Dalam Membangun Bangunan

Salah satu kebijaksanaan dalam membangun bangunan dari kearifan lokal nusantara. Masih dalam ingatanku. Suatu sore kakekku bergegas sambil memikul cangkul, seperti biasa beliau pasti ke sawah atau ke ladang. Tanpa pikir panjang aku mengekor di belakangnya. Sampai di ladang, kakekku memutari petak demi petak yang saat itu ditanami kacang tanah dan sudah siap panen tentunya. "Nyari apa kek??" Tanyaku penasaran. "Kakek mencari tempat untuk membangun "kubu" (rumah jaga sekaligus buat menaruh sapi ternak). Jawabnya. Hingga disuatu sudut pada petak itu kakek menggali hingga sedalam lututnya. "Buat apa itu kek??" Tanyaku lagi namun gak mendapat jawaban darinya. Kulihat kakek mengambil segenggam tanah galian dan menciumnya lalu dengan tangannya kakek menimbun kembali lubang galian tadi dengan tanah yang digali tadi. "Buat apa ya ... koq tadi dicangkul sekarang diurug lagi??" Kupikir kakek hendak menanam sesuatu, bibit pohon misalnya. Kakek yang melihatku keheranan mulai menjelaskan maksudnya. Begini penjelasan beliau : 1. Jika tanah urugan yang dimasukkan itu melebihi ketinggian sebelumnya maka lahan sekitar galian itu boleh didirikan bangunan. Jika sebaliknya itu artinya tanah dilokasi itu adalah tanah gembur atau tanah resapan air hujan dan gak boleh sebagai lokasi membangun. 2. Kalau tanah itu baunya amis maka dilarang untuk mendirikan bangunan. Jika "pedas" atau bau tanah pada umunya maka cocok utk mendirikan bangunan rumah tinggal. Dan jika wangi/harum cocok untuk bangunan suci (pelinggih) Tanah yang baunya amis disebabkan karena ada kandungan logam atau zat kimia tertentu pada tanah. Ini jelas sangat tidak baik buat kesehatan. .... Tanpa mengurangi rasa simpatiku pada korban, ini adalah tanah longsor dimana struktur tanah diabaikan saat membangun, menurutku. Maaf jika keliru. (by : Arya Pratithi Sentana Manikan) — at Banjar Pekandelan, Desa Blayu-Tabanan.

Pertanian Organik Yang Merata

Sebuah doa : Waktu saya di amrik, sya pernah di tanya seseorg. Katanya, seandainya saya biayai kmu sekolah, kmu ingin ngambil sekolah apa. Saya jawab, pertanian. Dia tertawa terbahak2 tapi sedikit menghina. Dia bilang, buat apa sekolah tinggi2 hanya untuk bertani. Saya jawab "bukan masalah bertaninya, tapi mimpi di balik itu. Anda memperkenalkn saya dengan produk GMO (tumbuhan transgenik), pentingnya makanan organik, dan bagaimana secara global kita akan mengalami krisis pangan krn keserakahan kita, kebodohan kita yang membuat kita tdk selaras dgn alam. Dan juga krn setiap saya berkebun di depan rumah, setiap saya menyentuh tanah, saya spt dekat dgn Ibu Bhumi, ada spt energi tertentu pada tanah, yg membuat hati saya terbuka". Mimpi saya ketika di Amrik, menggabungkan mesin teknologi bertani yg ada di barat dgn kebijaksaanaan bertani di nusantara (indonesia). Ketika saya merindukan Indonesia khususnya Bali, ketika saya melihat masyarakat daerah california utara yg sangat mudah mengakses makanan organik, ada rasa jengah dari dlm. Dan ketika saya melihat hanya org2 yg berduit saja yg bisa menikmati makanan organik dan produk2 alami lainnya. Saya pun merasa jengah. Saya bertanya di dlm diri "knapa sistem ini spt ingin menghancurkan mereka yg miskin dan lemah. Yg miskin akan mati, yg kaya akan bertahan, krn gampangnya mengakses ilmu pengetahuan, krn perut mereka sudah penuh, sehat pula, sedangkan org miskin, bagaimana mereka bisa berpikir lebih jauh, jika hal yg paling mendasar saja belum terpenuhi. Org miskin jaman dulu dan sekarang sangat berbeda. Dulu banyak org2 hebat lahir dari keluarga miskin. Apakah sekarang masih ada org2 hebat yg lahir di keluarga miskin (dihitung dari angkatan saya 1986)? Klopun mereka memiliki semangat, seolah2 semangat itu dimatikan oleh sebuah "sistem". Makanan mereka di racuni, air mereka di racuni, udara mereka diracuni, rumah mereka sangat kotor. Karena kelenjar pineal (mata ke 3, yg berada di tengah antara dua alis) nya di tutup oleh MSG, makan-makanan transgenik (GMO), air mereka yg di taruh zat kimia tertentu plus merokok pula. Org miskin jaman dulu hidupnya sederhana dan alami. Klo pun merokok, rokoknya masih alami, tdk dimasukan bahan2 tambahan yg berbahaya. Org miskin jaman dulu justru lebih sehat dari pada org kaya. Krn hidup mereka sederhana maka bathin mereka pun tenang. Saya lihat org2 tua yg masih hidup sampai skr, semangatnya tinggi sekali dan ga bisa diem, selalu bekerja, bukan krn uang, tapi karena suka bekerja. Tapi angkatan saya ke atas? Belum tua pun sudah lemet (lemas). Krn apa? MSG, GMO, Rokok dan polusi. Kelenjar Pineal kita benar2 di tutup shg intelejensia kita tdk berkembang. Mimpi saya, saya ingin mengembalikan Indonesia spt dulu lg dlm bidang pertanian. Semenjak pertanian transgenik muncul, semenjak pemerintah mensubsidi pertanian transgenik, semenjak itu kita mengalami krisis pangan. Saya belajar ilmu bukan untuk memiliki banyak sawah. Tapi ingin mengembalikan kebijaksnaan nusantara, mempopulerkan kembali. Saya pernah punya sebuah keinginan "saya ingin mendesak pemerintah untuk mensubsidi pupuk dan bibit organik. Bukan transgenik. Sehingga rakyat miskin pun dapat mengkonsumsi makanan yg sehat". Selama ini makanan organik mahal, krn tdk ada bantuan dari pemerintah. Knapa kita harus mensubsidi sesuatu yg membahayakn?. Seandainya kelenjar pineal kita tdk di tutup oleh MSG, GMO dan rokok, saya yakin, semua org akan hidup selaras dgn alam. Kita akan lebih menyukai alam daripada gedung. Kita akan lebih suka memberi drpd meminta. Selama ini kita teriak GMo bad really bad,,, kemudian kita bercocok tanam organik, dana dari mana? Pihak asing. Yg menikmati siapa? Mereka yg berduit dan org2 asing yg tinggal daerah ubud. Saya ekspresikan mimpi ini ke publik. Semoga dpt di akses. Krn jalan saya skr berbeda. Tapi tetep akan terus mendukung.

Generate Bodhcitta, Memaksimalkan Waktu Meditasi

Tips: ini adalah apa yg saya lakukan sebelum dan sesudah melakukan latihan spiritual, apapun itu tekniknya. Sebaiknya sebelum latihan, duduk diam, dan tumbuhkan motivasi/niat di dalam diri jika kita akan melakukan latihan spiritual ini, dengan sebuah kesadaran untuk memberdayakan diri, sehingga keberadaan kita akan memberi manfaat bagi setiap makhluk. Begitu juga setelah latihan selesai, duduk diam dan dedikasikan semua pahala dari hasil latihan ini kepada setiap makhluk terutama mereka yg terjebak dalam kesengsaraan, supaya pahala dari latihan ini menuntun mereka untuk masuk ke jalan dharma. Ini adalah salah satu teknik dari Bodhisattva Dharmakerti yg tinggal di Sumatera. Teknik ini yg kemudian di bawa ke india dan kemudian tibet. Salah satu kebijaksanaan yg berasal dari negeri kita sendiri, sudah saat nya ajaran2 ini di budidayakan kembali di tanah ini. Semoga membawa mafaat, dan semoga tips ini dapat melindungi kita dari "spiritual ego" yg sudah menjamur. Selamat merayakan hari raya Siwaratri bagi yg merayakan. Salam Kasih.

Ma, Send Your Wisdom to Me

Sometime to difficult to feel compassion if we are angry. Only attitude like a mother know how to be angry but still have compassion. Mother, send ur wisdom to me, so i can be just like u.

Benefit Your Self With Devotion

Close with master is good, but close without do the practice he give, that is not good. The relationship like that is only emotion without devotion. So the good opportunity we got won't multiply. This time if not because of our karma, so difficult to find the real master. So lucky finally that opportunity come. (Wulan)

Tranformasi Amarah Menuju AltarNya

Sadar sesadarnya "amarah" adalah energi negatif yang akan menarik "kenegatifan". Dalam pengalaman hidup, pergi ke tempat tidur, perasaan ga enak, ingin teriak, ingin melampiaskan tapi bingung bagaimana caranya. Yakin meditasi atau memperhatikan nafas dapat membantu, tapi karena lagi marah dimana energi negatif benar2 mengontrol, jadi susah sekali untuk memperhatikan amarah itu sendiri melalui nafas. Yang ada malah pikiran mendomonasi dan membuat banyak cerita. Akhirnya memutuskan untuk berbaring di tempat tidur, rileks dan bertanya ke dalam diri. Kenapa marah? karena keinginan tidak tercapai, kemudian dari amarah itu sendiri dasarnya adalah perasaan sedih alias "duka". Antidote "Duka" adalah "Suka". Kemudian saya berusaha untuk menciptakan rasa suka, kebetulan saya suka musik, dan kemudian saya memutuskan untuk mendengarkan musik, lupakan masalah yang ada untuk sementara dan hanya menikmati musik, sampai rasa negatif, rasa amarah berubah menjadi suka. Baru kemudian, duduk diam dan meditasi dan "sembah-Hyang".

A Touching Story About Potatoes, And Old Woman And a Judge

A touching story about potatoes, an old woman and a judge. It's a true story that happened in Indonesia which occurred in 2011, but the media seemed to have missed it and only a few got to tell the story. A story that captured the true essence and nature of what Justice really is and ought to be. An Indonesian judge by the name of Marzuki was sitting in judgment of an old lady who pleaded guilty of stealing some tapioca from a plantation. In her defense, she pleaded to the judge that she has done the deed because she was poor and her son was sick while her grandchild was hungry. The plantation manager insisted that she be punished as a deterrent to others. The judge going through the documents then look up and said to the old lady, “I’m sorry but I cannot make any exception to the law and you must be punished.” The old lady was fined Rp. 1 million (USD 100) and if she could not pay the fine then she will be jailed for 2 and a half years as demanded by the law. She wept as she could not pay the fine. The judge then took off his hat, put Rp. 1 million into the hat, and said “In the name of justice, I fined all who are in the court Rp. 50 thousand (USD 5.50) as dwellers of this city and letting a child starve until her grandmother have to steal to feed her grandchild. The registrar will now collect the fines from all the accused.” The court managed to collect Rp 3.5 million (USD 200) whereby once the fine was paid off, the rest was given to the old lady ….including the fine collected from the plantation manager.

We Are Universe

There is a single Consciousness, the Universal Mind, which pervades the entire Universe. It is all knowing, all powerful, all creative and always present everywhere at the same time. Your consciousness is part of it - it is It. All is One. You are connected to everything and every one. You are already connected what you want. To the degree that you truly comprehend and internalise this Truth, you will be able to become the master of your mind and the director of your life. Each and every one of us is a manifestation of this single Universal Consciousness. There is profound truth in the ancient teaching that we are all One. We are all connected - not only to each other but to all of Nature and to everything in the Universe. This is the Law of One. What you do to others, you do to yourself. The way you treat Nature, you in fact treat yourself. The separateness you "see" is an illusion of the personality ego. The true nature of reality is non-dualistic, meaning that while things may appear distinct, they are not separate. The inscription on the Ancient Greek Temple of Apollo at Delphi left no room for misunderstanding: "Know thyself and thou shalt know all the mysteries of the gods and the universe". (Taken From Internet)

Be The Change, Be A Model

I was recently doing a radio interview and a woman called in with an excellent question : "What do i do if I'm positive and want to grow, but my partner is a downer? Do I leave him? Do I try and get him to change? I hear this question at least a hundred times a week. Almost everyone asks the same question: "What if the people I'm closest to aren't into personal growth and even put me down for it?" Here's the answer I gave the woman on the call. First, don't bother trying to get negative people to change. That's not your job. Your job is to use what you've learned to better yourself and your life. Be the model, be successful, be happy, then maybe they'll see the light (in you) and want some of it. Again, energy is contagious. Darkness dissipates in light. People actually have to work hard to stay "dark" when light is all around them. Your job is simply to be the best you can be. If they choose ask you your secret, tell them. (by someone in some where)

Bersihkan Bajumu

[ BERSIHKAN "BAJUMU"] "Jika engkau ingin membersihkan kotoran yang telah menumpuk dari pakaian yang engkau kenakan, engkau membutuhkan sabun dan air bersih. Demikian juga, jika engkau ingin menghapus kotoran yang melekat dalam pikiran, Vidya (pengetahuan spiritual) dan Thapas (tapa) adalah yang terpenting yang harus dilakukan. Hanya ketika keduanya digunakan, tingkat kesadaran dibersihkan secara menyeluruh. Tidak ada kendaraan yang dapat bergerak tanpa memiliki paling sedikit dua roda, begitu pun burung tidak dapat terbang hanya dengan satu sayap. Demikian juga, tidak seorang pun dapat disucikan atau dimurnikan tanpa Vidya dan Thapas. -BABA-

Change Your Feeling

I asked her to change my life, she told me that is not necessary. Life is perfect. U don't need ask me to change ur life, u only need to "Change Your Feeling". (Wulan)

Why We Shout in Anger

A Hindu saint who was visiting river Ganges to take bath found a group of family members on the banks, shouting in anger at each other. He turned to his disciples smiled 'n asked. 'Why do people shout in anger shout at each other?' Disciples thought for a while, one of them said, 'Because we lose our calm, we shout.' 'But, why should you shout when the other person is just next to you? You can as well tell him what you have to say in a soft manner.' asked the saint Disciples gave some other answers but none satisfied the other disciples. Finally the saint explained, . 'When two people are angry at each other, their hearts distance a lot. To cover that distance they must shout to be able to hear each other. The angrier they are, the stronger they will have to shout to hear each other to cover that great distance. What happens when two people fall in love? They don't shout at each other but talk softly, Because their hearts are very close. The distance between them is either nonexistent or very small...' The saint continued, 'When they love each other even more, what happens? They do not speak, only whisper 'n they get even closer to each other in their love. Finally they even need not whisper, they only look at each other 'n that's all. That is how close two people are when they love each other.' He looked at his disciples 'n said. 'So when you argue do not let your hearts get distant, Do not say words that distance each other more, Or else there will come a day when the distance is so great that you will not find the path to return.' "Why We Shout In Anger" A Hindu saint who was visiting river Ganges to take bath found a group of family members on the banks, shouting in anger at each other. He turned to his disciples smiled 'n asked. 'Why do people shout in anger shout at each other?' Disciples thought for a while, one of them said, 'Because we lose our calm, we shout.' 'But, why should you shout when the other person is just next to you? You can as well tell him what you have to say in a soft manner.' asked the saint Disciples gave some other answers but none satisfied the other disciples. Finally the saint explained, . 'When two people are angry at each other, their hearts distance a lot. To cover that distance they must shout to be able to hear each other. The angrier they are, the stronger they will have to shout to hear each other to cover that great distance. What happens when two people fall in love? They don't shout at each other but talk softly, Because their hearts are very close. The distance between them is either nonexistent or very small...' The saint continued, 'When they love each other even more, what happens? They do not speak, only whisper 'n they get even closer to each other in their love. Finally they even need not whisper, they only look at each other 'n that's all. That is how close two people are when they love each other.' He looked at his disciples 'n said. 'So when you argue do not let your hearts get distant, Do not say words that distance each other more, Or else there will come a day when the distance is so great that you will not find the path to return.'

Sabtu, September 06, 2014

Words From Padmasambhava

Words from Padmasambhava : NOMO RATNA -GURU Lord Amitabha and Avolokiteshvara , Your compassion encompasses all beings. Bestow you blessing so that I may be your disciple And empty samsara. Now listen here , Tibetan king and subjects. I , Pandmakara of Uddiyana, Arrived in Tibet due to the continuation of past karma And fulfilled the king's aspiration. In the land of Tibet , a realm shrouded in dense dakrkness, I have made the sun of Dharma shine And established all beings in both happiness and well-being. Since then , the king of Tibet passed away. No I shall not remain in Tibet. The Tibetans and I do not agree ! I am leaving , I am going to India ! The Tibetan king and ministers and I do not agree ! They do not rule the kingdom according to the Dharma . Instead the ministers control the Dharma king. I am tired of king who engage in evil deeds. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan monks and I do not agree ! They do not keep the discipline pure , But in secret enjoy meat , wine , and women. I am tired of hyporitical people. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan teachers and I do not agree ! They do not explain the Buddha;s words and the treatises correctly , But fool people with distorted teachings. I am tired of people who falsify the Buddha's words. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan meditators and I do not agree ! They do not mingle the meditation state with postmeditation , But make mere intellectual understanding their experence and realization. I am tired of perctitioners who fixate on inert stillness. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan Tantrikas and I do not agree ! They do not keep the sacred commitments pure. Instead they let both Mahayana and Secret Mantra stray into shamanism. I ma tired of samaya violators. I ma leaving , I am going to India ! The Tibetan yogis and I do not agree ! They do not posses the meaning of view and meditation in their Dharma practice , But fool themselves with boastful platudes. I am tired of bragging people. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan chieftains and I do not agree ! They do not mingle social affairs with the divine Dharma , But waste the teachings and the kingdom with evil intentions. I am tired of evil-minded people with nagative intent. I am leaving , I am going to India ! They do not practice generosity free from pre-judice , But always create the causes for rebirth among hungry ghosts. I am tired of deceitful and tightfisted people. I am leaving , I am going to India ! The Tibetan women and I do not agree ! They do not take faith and compassion to heart. But follow charlatans with hollow faith. I am tired of unfaithful , lustful women. I am leaving , I am going to India ! Tibetan disciples , remain in peace. I am leaving , I am going to the land of the rakshasas. I pray that we may meet again in the future. FROM THE BOOK ( THE LOTUS- BORN ) LIFE STORY OF PADMASAMBHAVA.

Love Can Change Anything

A woman can't change a man because she loves him, A man changes himself because he loves her !

How To Find A Buddha

"To find a Buddha, all you have to do is see your nature. Your nature is the Buddha. And the Buddha is the person who's free: free of plans, free of cares. If you don't see your nature and run around all day looking somewhere else, you'll never find a Buddha. The truth is, there's nothing to find. But to reach such an understanding you need a teacher and you need to struggle to make yourself understand..." Bodidharma

Being Peace

A teaching from "Being Peace" by Thitch Nhat Hahn: "A woman who practices reciting Buddha Amitabha's name, is very tough and recites "NAMO AMITABHA BUDDHA" three times daily. Although she is doing this practice for over 10 years, she is still quite mean, shouting at people all the time. She starts her practice lighting incense and hitting a little bell. A friend wanted to teach her a lesson, and just as she began her recitation, he came to her door and called out: "miss Nuyen, miss Nuyen!". As this was the time for her practice she got annoyed, but she said to herself: "I have to struggle against my anger, so I will just ignore it." And she continued: "NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA..." But the man continued to shout her name, and she became more and more oppressive. She struggled against it and wondered if she should stop the recitation to give the man a piece of her mind, but she continued reciting: "NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA..." The man outside heard it and continued: "Miss Nuyen, miss Nuyen..." Then she could not stand it anymore, jumped up, slammed the door and went to the gate and shouted: "Why do you have to behave like that? I am doing my practice and you keep on shouting my name over and over!" The gentleman smiled at her and said: "I just called your name for ten minutes and you are so angry. You have been calling Amitabha Buddha's name for more then ten years now; just imagine how angry he must be by now!"

With Pure Heart Go To Shambhala

SHAMBALA : For thousands of years, there is a rumor circulating that somewhere in Tibet, among the snowy Himalayan peaks and secluded valleys, there is an untouched paradise, a kingdom where peace and universal policy that is indescribable. A kingdom called Shambhala. ................... Shambhala word comes from the Sanskrit word meaning "place of peace" or "Place of silence". This kingdom has a capital named Kalapa and ruled by the kings of the dynasty Kulika or Kalki. This is where living things are perfect and semi perfect meet and jointly guide the evolution of humanity. Only those who are pure in heart that can live in this place. There they will enjoy happiness and peace and will not even recognize the suffering.

Karma Beyond Good and Bad

To me, the meaning of karma is not about good or bad. Also It is not about what happened in the past or will happen in the future. The idea of karma is to look and understand our personality, learning about our personality , how it is built up, how it is, how we can shape it. The fear of karma and all the fuss about it is quite useless. Karma is more like an example that permits us to understand ourselves, to change and improve our lives. At the end karma is all about us, it’s about improving and facing our responsibility on this planet ! (Kalu Rinpoche)

No Harmful Traditions

All traditions, whether religious or secular, have developed to benefit human society. In the event that a tradition or system becomes harmful, there’s no need to insist on following it. _ Karmapa_

Free and Easy, Spontaneous Vajra Song

--'Free and Easy: A Spontaneous Vajra Song' -- Happiness cannot be found through great effort and willpower, but it is already present, in open relaxation and letting go. Don't strain yourself, there is nothing to do or undo. Whatever momentarily arises in the body-mind has no real importance at all, has little reality whatsoever. Why identify with, and become attached to it, passing judgment upon it and ourselves? Far better to simply let the entire game happen on its own, springing up and falling back like the waves- without changing or manipulating anything- and notice how everything vanishes and reappears, magically, again and again, time without end. Only our searching for happiness prevents us from seeing it. It's like a vivid rainbow which you pursue without ever catching, or a dog chasing it's own tail. Although peace and happiness do not exist as an actual thing or place, it is always available and accompanies you every instant. Don't believe in the reality of good and bad experiences; they are like today's ephemeral weather, like rainbows in the sky. Wanting to grasp the ungraspable, you exhaust yourself in vain. As soon as you open and relax this tight fist of grasping, infinite space is there-open, inviting and comfortable. Make use of this spaciousness, this freedom and natural ease. Don't search any further. Don't go into the tangled jungle looking for the great awakened elephant, who is already resting quietly at home in front of your own hearth. Nothing to do or undo, nothing to force, nothing to want, and nothing missing- Emaho! Marvelous! Everything happens by itself. ~ by Venerable Lama Gendun Rinpoche Crazy Yogi image of Nyoshul Khen Rinpoche, great perfection incarnate.

Kesatuan Kolektif Menuju Kesadaran Baru

"Terkadang bencana alam yang sangat besar jauh lebih manusiawi daripada bencana perang dan kemanusiaan yang dibuat oleh manusia itu sendiri karena kebrutalan manusia dapat melebihi kebrutalan binatang buas. Dan sebaliknya kebaikan manusia sesungguhnya dapat melampui kebaikan para malaikat. Bila dalam keadaan katastropik kamu sanggup melakukan suatu kebaikan, mampu melupakan dirimu sendiri dan mengorbankan kepentingan pribadi untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan di saat itulah jiwamu akan diangkat. Dan bila ada satu orang saja yang melakukannya, hal ini akan menyebar kepada semua orang di seluruh dunia. Semua ini adalah pembelajaran bersama, walaupun kita turun dengan keragaman etnis dan bangsa, sesungguhnya kita adalah satu kesatuan kolektif yang sedang membangun sebuah kesadaran yang baru." - (Gede Vasmana)

Fix Your Mind

We call ourselves Buddhist. We always think that we need to go to a monastery, take refuge, make connections with high lamas , practice meditation, wear robes, do three-year retreat, etc. Actually the point is more simple: All we need is one person, he or she, who is able to free our deluded mind. If the personal connection with that person can fix our mind, whether he or she is a Buddhist or Christian, religious or secular, that person who can really fix our mind is the buddha ! Don’t make your beliefs so solid. Even at the time of Buddha the followers connected directly to the Buddha himself. No colors, no big temples, no ceremonies; just person to person. So what you need is to find a person who has life experience and spiritual qualification that can fix your mind. That’s all you need. Take your time and be patient, that’s the key. If you want to fall into more confusion there are many masters who will mess you up easily, for sure it will work, but for me confusion is not an option. (Kalu Rinpoche)

Nightmare Transforming

Another Story : I had Nightmare last Night. I still aware that i was in dream. That so scary. I was trying to wake up but my dream controlled me. My Body couldn't move and i felt so pressure. I felt like my dream controlled my Body and mind. Finally, i decided to transform my body as My Lama. Then from hands emitted red light, my stomach emitted yellow light and so bright. Then i woke up, i felt so happy, but then i realized i still in another layer of my dream. Then i tried again to transform my body and mind as My Lama.. but i lost my focus while i tried to chant Guru Rinpoche Mantra. I absolutely forgot that mantra. My heart so sad, how can i forget, i always chant that Mantra. I felt that My dream win to control my mind and body. I even couldn't transform my body again as my Lama.. i lost my power. I felt frustration. I couldn't scream, my dream controlled my mouth. But wait a moment, My Dream couldn't control My heart. So i used My heart to scream "All Budhha, Bodhisatva .. Helpppppp!!!!!!!" My heart cried inside my dream .. then one thought came to my dream, told me to transform my Body as Lion Face Dakini. After i transformed My Body as Lion Face Dakini, i felt like my heart was getting bigger and bigger.. i felt some power inside me came to free myself from the dream. I felt like i can control my dream .. then i woke up in real life. When i opened my eyes, my heart so fast chanted "Om Ah Hum Vajra Guru Padma Siddhi Hum" .. then i tried to breath slowly and be happy .. i thank you to My Lama, all dakinis, Buddha and Bodhisatva .. Wish someday i can get Lion Face dakini Empowerment.

Sebelum Terlahir Menjadi Buddha

Sebelum Buddha menjadi Buddha di dunia. Beliau pernah terlahir di alam neraka karena perbuatan negative beliau di dunia. Saat itu beliau tidak mengenal spiritualitas. Beliau tidak tau mantra, maupun meditasi, konsep Tuhan pun beliau tdk mengerti. Saat itu beliau dan dua orang tua di hukum menarik besi panas yg sangat berat dan sungguh sangat mustahil di pindahkan. Betara Yama terus mencambuk mereka, memaksa mereka untuk menarik besi panas itu dengan punggung mereka. Waktu terus berjalan, merekapun tidak mampu memindahkan besi panas itu. Rasa lelah, haus dan lapar, ketakutan, ketidakberdayaan pun dialami. Penderitaan terus bertambah dan sepertinya tidak akan pernah berakhir. Saat itu Buddha melihat dua orang tua disebelah beliau sangat lelah dan menderita sekali. Entah kenapa, rasa iba pun muncul di hati beliau. Kemudian beliau berpikir "sungguh sangat mustahil kami bertiga dapat memindahkan besi panas ini, dan mereka sudah tua. Ah, lebih baik saya suruh saja mereka istirahat, biar saya saja yg menanggung penderitaan ini seorang diri, biarkan saya saja yg menarik besi panas ini". Betara Yama, yg dapat membaca pikiran Buddha pun menjadi sangat murka. Beliau berkata "kamu pikir kamu dapat menanggung karma negative seseorang?!!". Lalu beliau memberi cambukan yang sangat keras sekali yg dapat memenggal kepala Buddha. Saat itu juga Buddha pun mengalami kematian dan terlahir kembali di alam surga, alam para dewa dan malaikat. Seketika beliau tersadarkan, bahwa kebaikan hati (bodhicitta) adalah kunci untuk terbebaskan dari penderitaan. Menyadari hal tersebut, beliau menggunakan waktu beliau di alam surga mengembangkan rasa cinta kasih (bodhicitta) dan membagikan pengetahuan ini pada para dewa. Baru setelah itu beliau terlahir kembali ke dunia, dan menyebarkan ajaran suci ini kepada umat manusia.