Minggu, September 07, 2014

Pertanian Organik Yang Merata

Sebuah doa : Waktu saya di amrik, sya pernah di tanya seseorg. Katanya, seandainya saya biayai kmu sekolah, kmu ingin ngambil sekolah apa. Saya jawab, pertanian. Dia tertawa terbahak2 tapi sedikit menghina. Dia bilang, buat apa sekolah tinggi2 hanya untuk bertani. Saya jawab "bukan masalah bertaninya, tapi mimpi di balik itu. Anda memperkenalkn saya dengan produk GMO (tumbuhan transgenik), pentingnya makanan organik, dan bagaimana secara global kita akan mengalami krisis pangan krn keserakahan kita, kebodohan kita yang membuat kita tdk selaras dgn alam. Dan juga krn setiap saya berkebun di depan rumah, setiap saya menyentuh tanah, saya spt dekat dgn Ibu Bhumi, ada spt energi tertentu pada tanah, yg membuat hati saya terbuka". Mimpi saya ketika di Amrik, menggabungkan mesin teknologi bertani yg ada di barat dgn kebijaksaanaan bertani di nusantara (indonesia). Ketika saya merindukan Indonesia khususnya Bali, ketika saya melihat masyarakat daerah california utara yg sangat mudah mengakses makanan organik, ada rasa jengah dari dlm. Dan ketika saya melihat hanya org2 yg berduit saja yg bisa menikmati makanan organik dan produk2 alami lainnya. Saya pun merasa jengah. Saya bertanya di dlm diri "knapa sistem ini spt ingin menghancurkan mereka yg miskin dan lemah. Yg miskin akan mati, yg kaya akan bertahan, krn gampangnya mengakses ilmu pengetahuan, krn perut mereka sudah penuh, sehat pula, sedangkan org miskin, bagaimana mereka bisa berpikir lebih jauh, jika hal yg paling mendasar saja belum terpenuhi. Org miskin jaman dulu dan sekarang sangat berbeda. Dulu banyak org2 hebat lahir dari keluarga miskin. Apakah sekarang masih ada org2 hebat yg lahir di keluarga miskin (dihitung dari angkatan saya 1986)? Klopun mereka memiliki semangat, seolah2 semangat itu dimatikan oleh sebuah "sistem". Makanan mereka di racuni, air mereka di racuni, udara mereka diracuni, rumah mereka sangat kotor. Karena kelenjar pineal (mata ke 3, yg berada di tengah antara dua alis) nya di tutup oleh MSG, makan-makanan transgenik (GMO), air mereka yg di taruh zat kimia tertentu plus merokok pula. Org miskin jaman dulu hidupnya sederhana dan alami. Klo pun merokok, rokoknya masih alami, tdk dimasukan bahan2 tambahan yg berbahaya. Org miskin jaman dulu justru lebih sehat dari pada org kaya. Krn hidup mereka sederhana maka bathin mereka pun tenang. Saya lihat org2 tua yg masih hidup sampai skr, semangatnya tinggi sekali dan ga bisa diem, selalu bekerja, bukan krn uang, tapi karena suka bekerja. Tapi angkatan saya ke atas? Belum tua pun sudah lemet (lemas). Krn apa? MSG, GMO, Rokok dan polusi. Kelenjar Pineal kita benar2 di tutup shg intelejensia kita tdk berkembang. Mimpi saya, saya ingin mengembalikan Indonesia spt dulu lg dlm bidang pertanian. Semenjak pertanian transgenik muncul, semenjak pemerintah mensubsidi pertanian transgenik, semenjak itu kita mengalami krisis pangan. Saya belajar ilmu bukan untuk memiliki banyak sawah. Tapi ingin mengembalikan kebijaksnaan nusantara, mempopulerkan kembali. Saya pernah punya sebuah keinginan "saya ingin mendesak pemerintah untuk mensubsidi pupuk dan bibit organik. Bukan transgenik. Sehingga rakyat miskin pun dapat mengkonsumsi makanan yg sehat". Selama ini makanan organik mahal, krn tdk ada bantuan dari pemerintah. Knapa kita harus mensubsidi sesuatu yg membahayakn?. Seandainya kelenjar pineal kita tdk di tutup oleh MSG, GMO dan rokok, saya yakin, semua org akan hidup selaras dgn alam. Kita akan lebih menyukai alam daripada gedung. Kita akan lebih suka memberi drpd meminta. Selama ini kita teriak GMo bad really bad,,, kemudian kita bercocok tanam organik, dana dari mana? Pihak asing. Yg menikmati siapa? Mereka yg berduit dan org2 asing yg tinggal daerah ubud. Saya ekspresikan mimpi ini ke publik. Semoga dpt di akses. Krn jalan saya skr berbeda. Tapi tetep akan terus mendukung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar