Minggu, September 07, 2014

Kearifan Nusantara Dalam Membangun Bangunan

Salah satu kebijaksanaan dalam membangun bangunan dari kearifan lokal nusantara. Masih dalam ingatanku. Suatu sore kakekku bergegas sambil memikul cangkul, seperti biasa beliau pasti ke sawah atau ke ladang. Tanpa pikir panjang aku mengekor di belakangnya. Sampai di ladang, kakekku memutari petak demi petak yang saat itu ditanami kacang tanah dan sudah siap panen tentunya. "Nyari apa kek??" Tanyaku penasaran. "Kakek mencari tempat untuk membangun "kubu" (rumah jaga sekaligus buat menaruh sapi ternak). Jawabnya. Hingga disuatu sudut pada petak itu kakek menggali hingga sedalam lututnya. "Buat apa itu kek??" Tanyaku lagi namun gak mendapat jawaban darinya. Kulihat kakek mengambil segenggam tanah galian dan menciumnya lalu dengan tangannya kakek menimbun kembali lubang galian tadi dengan tanah yang digali tadi. "Buat apa ya ... koq tadi dicangkul sekarang diurug lagi??" Kupikir kakek hendak menanam sesuatu, bibit pohon misalnya. Kakek yang melihatku keheranan mulai menjelaskan maksudnya. Begini penjelasan beliau : 1. Jika tanah urugan yang dimasukkan itu melebihi ketinggian sebelumnya maka lahan sekitar galian itu boleh didirikan bangunan. Jika sebaliknya itu artinya tanah dilokasi itu adalah tanah gembur atau tanah resapan air hujan dan gak boleh sebagai lokasi membangun. 2. Kalau tanah itu baunya amis maka dilarang untuk mendirikan bangunan. Jika "pedas" atau bau tanah pada umunya maka cocok utk mendirikan bangunan rumah tinggal. Dan jika wangi/harum cocok untuk bangunan suci (pelinggih) Tanah yang baunya amis disebabkan karena ada kandungan logam atau zat kimia tertentu pada tanah. Ini jelas sangat tidak baik buat kesehatan. .... Tanpa mengurangi rasa simpatiku pada korban, ini adalah tanah longsor dimana struktur tanah diabaikan saat membangun, menurutku. Maaf jika keliru. (by : Arya Pratithi Sentana Manikan) — at Banjar Pekandelan, Desa Blayu-Tabanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar