Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Yang Dirindukan Jiva. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Yang Dirindukan Jiva. Tampilkan semua postingan
Minggu, September 07, 2014
Kebebasan Yang Dirindukan Jiva
Saya yakin secara naluri kita semua menginginkan kebebasan. Tapi sayangnya kadang kita sering bingung, "kebebasan macam apa yg kita inginkan". Di lain sisi, jiwa kita juga menginginkan cinta. Kebebasan dan Cinta. Dua hal yg selalu dicari dan dirindukan. Dan sebenarnya Cinta itupun membutuhkan kebebasan. Jika dua hal ini lari ke hal2 kasat mata/hanya fisik/material/duniawi maka tidak heran kita akan menjadi palyboy atau playgirl. Kita ingin cinta tapi bebas. Kita yg diberkahi intelejensia sebenarnya dapat mengarahkan keinginan ini ke hal yg lebih besar daripada hal2 duniawi. Para jiwa bebas kadang suka bingung, mereka pikir adat, pemerintah, atau orang2 tertentu dapat membatasi kebebasan mereka. Tapi ternyata semua itu hanya ilusi. Tidak ada satupun yg bisa membelenggu jiwa kita. Mereka bisa saja memenjarakan badan kita, mereka bisa saja membatasi ruang gerak kita untuk berekspresi dan merasakan. Tapi mereka tidak bisa mengambil kekuatan jiwa yg bebas. Ya, jiwa yg bebas. Bebas dari segala macam ilusi negatif. Karena bagi saya kebebasan yg diinginkan oleh jiwa kita adalah kebebasan dari rasa marah, cemburu, irihati, keserakahan dan keterikatan. Dan kebebasan macam itu hanya bisa didapatkan dengan cara mencintai. Lihat saja mereka2 yg sedang jatuh cinta, tempat tinggal mereka masih sama, yg memerintah mereka juga masih sama, adat yg mengatur mereka juga sama. Tapi mereka bahagia, rasa tertekan dan terpenjarakan hilang seketika ketika mereka merasakan cinta. Tiba2 dunia jadi indah, bukan samsara lg, bukan penjara lg. Teringat sebuah cerita, salah seorang sahabat di Tibet, yang di usia mudanya di tanggkap oleh pemerintah china. Beliau di penjara selama 9 tahun. Tahun2 pertama beliau sangat marah terhadap china. Karena pemerintah china menghancurkan budaya mereka, dan membunuh orang2 tibet. Didalam penjara di tengah penderitaan beliau, beliau bertemu seorang Guru besar. Guru itu mengajarkan cinta kasih (bodhicitta) kepada beliau. Seketika cara pandang beliau terhadap penderitaannya berubah. Beliau menjadi tahanan yg baik, dan menjadi pelayan yg baik bagi warga di tahanan itu. Dan tentu saja rasa benci terhadap orang china hilang yg kemudian tergantikan dengan rasa kasihan. Dalam beberapa tahun, penjara bukan penjara lagi. Beliau bahagia karena rasa cinta itu. Dan entah bagaiamana, ketika beliau merasakan kebebasan itu di penjara, kebebasan fisik pun terjadi. Entah bagaimana alam semesta membuat pemerintah china membebaskan beliau dari penjara. Pemerintahan atau orang2 tertentu hanya akan berhasil membelenggu jiwa kita ketika mereka berhasil membuat kita marah, takut, cemburu, benci, iri hati, serakah dan terikat. Dan satu2nya kunci untuk sebuah kebebasan adalah mencintai. (Wulan)
Langganan:
Postingan (Atom)
